September 2011
Aku belum tahu pasti,
Tapi mungkin suatu saat nanti,
Kamu akan melihatku sejelas yang kamu mampu,
Lalu sadar bahwa akulah yang selalu melihatmu. Tanpa pretensi. Tanpa ekspektasi.
Jika saat itu datang, Sayang,
Semoga hatiku masih milikmu.
Menjawab postingan Mbak Pinky yang ini, gue juga mau sharing ah tentang pengalaman menjadi anak sulung.
Kalo Clarita mostly membahas dari segi kompatibilitas dengan pasangan (ehm), gue akan lebih… lebih… apa ya, gatau sih, secara gue belum PERNAH punya pacar jadi ga bisa bahas juga HAHAHA (ketawa miris).
(malah jadi ngasihanin diri sendiri)
Well, oke, gini ya… being the eldest kid has its own perks. I’m talking new clothes, new stuffs, and for some cases, biasanya anak sulung relatif lebih memungkinkan dapet kamar sendiri daripada adik-adiknya (it happens to moi).
But there’s always a price to pay for all those new freebies. Yep, an eldest child must pay those new freebies with RESPONSIBILITY. A big word, and definitely not an easy thing to do.
Bener kata Clarita, anak sulung dituntut untuk pefect. Mulai dari kebiasaan di rumah (beres-beres, bantuin orangtua, etc.) sampe ke ranah akademik (nilai bagus, masuk sekolah unggulan, etc.). Gue udah 19 tahun jadi anak sulung dan udah terbiasa sama ekspektasi-ekspektasi macam itu. Selama SD-SMA nilai gue rada ancur, tapi alhamdulillah begitu masuk kuliah nilai membaik dan itu jadi bikin gue semakin mudah menjalankan tanggung jawab :)
Yang menurut gue susah adalah tanggung jawab secara moral. Gue gak bakal jelasin panjang lebar, tapi gue bakal kasih satu contoh. Gue gak tau sih hal ini dirasain sama jutaan anak sulung lainnya di dunia, tapi yang jelas gue ngerasain ini.
Kadang, setiap gue ‘dikasih jatah’ beli macem-macem sama orangtua (biasanya jatah gue gak jauh-jauh dari buku), gue gak bakal minta banyak-banyak… padahal pengennya sih banyak. Udah nyusun list barang-barang yang mau dibeli kalo dapet giliran ‘jatah’, tapi toh akhirnya gue lebih sering menahan diri dan memutuskan untuk nabung diem-diem aja buat memenuhi keinginan gue. Kenapa? Soalnya gue ingat ke3 (sekarang 4) ade-ade gue juga butuh biaya yang gak sedikit untuk keperluan mereka. Gue orang yang sangat egois, tapi gue juga orang yang tidak tega melihat orangtua gue berkorban segitu banyak buat gue sementara ade-ade gue yang lain belum kebagian.
Agak ribet ya? Here, let me simplify it for you:
Minggu lalu, gue sekeluarga jalan-jalan buat cari baju gue (yang baru-baru ini pake jilbab). Dari yang rencananya gue pengen minta beli baju + bawahannya, akhirnya gue menahan diri. Malah tadinya gue memutuskan untuk pending lagi aja. Kesannya gue gimana banget gitu belanja macem-macem sementara ade-ade gue ga kebagian jatah belanja. Begitu juga tiap gue menyusun daftar belanja buku (padahal buku-buku tersebut bakal kepake di perkuliahan), gue biasanya menyimpan daftar itu sendiri tanpa pernah ngasih ke Ayah karena gue tau harga 1 buku itu bisa beli susu Afham 3-5 kaleng. Atau beli sepatu Nina, atau bayar uang les-nya Dhani.
See? it’s those little things. Gue bukannya mau bersikap sok baik dengan membeberkan semua ini, tapi gue cuma mau menunjukkan kalo perasaan ini bakal otomatis dirasakan oleh semua anak sulung di dunia (eaa). It’s in their blood to sacrifice themselves so that they could see their siblings get what they want them to get. Gue, sebagai anak sulung, sebenci-bencinya gue sama ade-ade gue, tetep pengen mereka juga mendapat hak yang sama dengan hak yang gue dapatkan dari orangtua gue.
And of course, I wish them nothing but the best.
I may not always like them, I may feel sorry to have them, tapi gue gak akan pernah membiarkan mereka… terlantar. *ahelah bahasa gue*
BTW ini kenapa postingan gue terpotong, bikin males aja -_-
How Important You Think Education Is
Most people think that education is the one thing you have to accomplish and being taught during your school years. For me, personally, education is way beyond that narrow definition. Education is something you can get almost anywhere; anyplace, anytime, in so many different ways. School is just a tiny piece of those ways. You’ll always have another ways of education, so open up to new things! As for how important education is, my say would be it’s important only for those who dare to dream. Are you?
What You Ate Today
Nothin’ yet since it’s 1.33 AM lol
Five Pet Peeves
1. You. *point at someone’s face*
2. People smoking in public area. Dudes, do you mind putting your brain on before you go out? Thanks.
3. Suffocating from too much laughing :P
4. Being jealous. #eaaa (let’s hope Gabs won’t see this post)
5. Jakarta’s morning, lunchtime, and night traffic (basically Jakarta’s traffic is fucked up 24/7)
IDK if it’s even legal to rush the belated posts altogether, but screw it. It’s 30 Days Challenge NOT 30 Days (in a row) Challenge, right? *smirk*
Azrina Perwitasari says (23:02)
LAPTOP GUE TD NGECRASH AJA GITU DONGGG
Rahadian says (23:03)
hahahahaha kasian
lo jdnya skrg udah brapa halaman rin?
Azrina Perwitasari says (23:03)
NOL
Rahadian says (23:04)
yah
sabar rin
lo yg smangat ya
bsk kls prancis jg?
Azrina Perwitasari says (23:04)
makasih ya Jeh :’)
iya Jeh :””)
Rahadian says (23:04)
waduh jgn tidur malem2 wkwkwk
Azrina Perwitasari says (23:05)
terlambat Jeh
Rahadian says (23:06)
ga ada kata terlambat
Azrina Perwitasari says (23:06)
tugas blm jadi gmn mau tidur
Rahadian says (23:07)
hahahahha
gue temenin deh wkwk
bilang2 yak klo udh jadi
copas aja
Azrina Perwitasari says (23:07)
eh seriuuus? gpp Jeh lo tidur aje, Ciledug jauh
hahaha » ceritanya udah terharu
Rahadian says (23:09)
gue aja blm selesai, gmana mau tidur » bikin batal terharu
Azrina Perwitasari says (23:09)
…oke sama2 lah ya
lo copas darimana
Rahadian says (23:10)
yoi
Azrina Perwitasari says (23:10)
gue ngeri deh Fuad copas2
Rahadian says (23:10)
dari blog
blog berbahasa inggris
lalu gue terjemahkan bahasa indonesia
hasilnya adalah
paper yg sama skali bkn copas
Azrina Perwitasari says (23:10)
…pintar
Rahadian says (23:11)
ya iyalah…..
Azrina Perwitasari says (23:11)
bisa bgt lo ye
emang bahasan lo apa
Rahadian says (23:12)
akhirat dan kematian
Azrina Perwitasari says (23:12)
…madesu ya
- Me: kayaknya cuma dia deh yang mungut pecahan kaca pake rubber gloves dan tetep kena.
- Ilon: dan cuma lo yang khawatir sama dia.
I think the term “you’re my comfy blanket” should really categorized into a compliment. I mean (maybe this is just me being geeky), a comfy blanket means that it’s not only warm but also gives you the comfort you just need after a whole day beaten up at work or being scolded like hell. A comfy blanket is one of the sole reasons to come home to; something that you can dug yourself in no matter how fucked up you are. And to hear that from someone would literally make me smile from ear to ear. It’d probably be the sweetest compliment someone throws for me :)
Well, mine just got drowned in a hot oil, deep fried, and now burnt. That cycle have been going on for 3 years.
Your Views on Mainstream Music
If the definition of mainstream music includes Lady Gaga or All Time Low or Katy Perry, then count me out. I don’t really enjoy their songs (no offense).