Hujan
Itu hujan,
yang berderap-derap menghujam tanah,
yang suaranya begitu damai; membuaimu dalam tidur yang lelap.
Itu hujan,
yang membuat kopimu terasa nikmat tiada dua,
yang melembutkan hati dan menajamkan pikiranmu.
Itu hujan,
yang menelusup masuk ke perasanmu,
yang membuatmu termenung, terpekur mengeja hidup.
Itu hujan,
yang melipatgandakan rasa rindumu,
yang membuatmu tak sabar untuk menantinya pulang :)
3.03 PM
21 April 2010
Lagi suka puisi yang berhubungan dengan hujan :D
Hujan sore itu membuat saya jadi melankolis. Habis jarang rasanya, jam 3 sore bisa menikmati hujan di rumah, tiduran di atas kasur empuk berselimut tebal. Biasanya kalau hujan turun setiap jam 3 sore, saya berada di sekolah.
Entah kenapa rasanya damai betul saat itu, padahal hujan benar-benar tidak bersahabat; lebat dan terdengar begitu mengancam… belum lagi petir besar yang beberapa kali menyambar.
Puisi ini tercetus begitu saja. Dan entah kenapa, saya selalu mengkonotasikan hujan dengan kata ‘menunggu.’ Ya, banyak orang menunggu sesuatu saat hujan. Banyak orang berharap penantiannya berakhir setelah hujan berakhir. Banyak orang yang berharap pada hujan.
Mungkin saya memang ditakdirkan untuk mencintai hujan ya… karena saya nyaris tidak pernah membenci hujan, bahkan ketika saya kehujanan. Bahkan ketika saya njeblos masuk ke selokan akibat minimnya penglihatan karena hujan turun begitu lebat. Bahkan ketika terjebak macet berkepanjangan atau telat dijemput karena hujan turun seenaknya.
Omong-omong tentang hujan, ada satu puisi yang saya suka sejak SD. Saya ingat saya pernah membacanya di sebuah buku terbitan Balai Pustaka (saya lupa judulnya apa). Bahkan setelah bertahun-tahun tidak membaca puisi itu, saya masih ingat betul judul serta pengarangnya. Ya, Hujan Bulan Juni karangan Sapardi Djoko Damono.
Bahkan saat saya masih kecil pun, saya sudah menganggap puisi itu indah sekali. Saya belum mengerti banyak tapi selalu ada perasaan damai yang menelusup saat membaca puisi itu dalam hati. Selalu ada sesuatu yang membuat saya tersenyum, selalu ada sesuatu yang hangat mengalir dalam diri saya setiap kali saya membacanya.
Hujan memang tempat para penyair menggali inspirasi.
Hujan tidak akan pernah berhenti menjadi inspirasi. Hujan tidak akan pernah berhenti menyayangi kita…